Penangkaran Rusa Desa Bebidas : Langkah Nyata Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Penangkaran Rusa Desa Bebidas terletak di Desa Bebidas, Kec. Wanasaba, Kab.Lombok Timur dan telah diresmikan sejak tanggal 24 April 2019. Peresmian penangkaran rusa ditandai dengan penyerahan izin penangkaran yang diberikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Drh. Indra Eksploitasia kepada pengurus penangkaran rusa sekaligus secara simbolis melakukan pelepasan 3 ekor rusa ke dalam kandang penangkaran.

Sebagai informasi, rusa merupakan satwa yang menjadi lambang Taman Nasional Gunung Rinjani sekaligus menjadi lambang Provinsi NTB. Keberadaan rusa saat ini akan mengalami kepunahan jika tidak dilakukan upaya konservasi dan mengakibatkan generasi yang akan datang tidak akan mengenal rusa secara langsung.
Penangkaran rusa adalah langkah nyata konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Dari sisi konservasi, penangkaran rusa dapat menjadi salah satu upaya peningkatan populasi spesies ini dan supply rusa di Taman Buru Pulau Moyo. Melalui penangkaran, masyarakat dilibatkan secara langsung dalam upaya konservasi spesies ini.

Jika dilihat dari sisi pemberdayaan masyarakat, penangkaran rusa dikelola oleh kelompok masyarakat Desa Bebidas yaitu “Pokdarwis Rinjani Perkasa” yang merupakan kelompok binaan Balai TN Gunung Rinjani.
Selain itu, rusa sangat berpotensi sebagai salah satu alternatif peningkatan ekonomi karena daya jualnya yang tinggi. Dagingnya memiliki kandungan gizi tinggi yang dapat diolah menjadi produk pangan serta bagian ranggahnya dapat dijadikan sebagai bahan obat herbal.
Dari segi pemeliharaan, rusa adalah hewan yang ekonomis dan mudah dipelihara. Jenis pakannya lebih beragam daripada sapi sehingga kebutuhan rumput lebih sedikit. Pemeliharaan rusa tentu akan dapat meminimalisir ancaman perambahan areal penanaman rumput.

Harapannya, penangkaran rusa dapat menjadi atraksi wisata baru yang berbasis masyarakat di Provinsi NTB. Pengunjung dapat berwisata memberi makan rusa, menikmati produk olahan rusa sekaligus mempelajari siklus hidup spesies ini.

Baca Juga  Bupati Lombok Tengah Dukung Program Hapus Tato Gratis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori