Warga Lingkar Bandara Dukung BIL Menjadi BIZAM

Dukungan masyarakat lingkar Bandara, terkait SK menteri perhubungan Republik Indonesian, tentang nama Bandara Internasional Lombok menjadi Bandar Udara Internasional Zaenuddin Abdul Madjid Lombok, kian santer.

Setelah warga Dusun Slanglet Desa Penujak kecamatan Praya Barat Lombok Tengah (Loteng), kini dari warga Desa Ketare Kecamatan Pujut Loteng, angkat bicara.

Lalu Irawan Muda, MH mengatakan, pihaknya selaku pemuda yang beralamatkan di Desa Ketare Kecamatan Pujut Loteng, menyambut keputusan pemerintah pusat, yang telah memberikan nama bandara, dengan nama pahlawan nasional. Yakni Maulana Syekh TGKH Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid.

“Saya dari Desa Ketare, yang dulu tanah nenek moyangnya juga masuk ke bandara. mendukung keputusan pemerintah pusat yang telah memberikan nama bandara menjadi BIZAM,” katanya.

Ada beberapa alasan kenapa pihaknya mendukung keputusan pemerintah tersebut, pertama Maulana Syaikh adalah sosok pahlawan NTB yang sudah di akui pemerintah, dan beliau juga telah membangun banyak madrasah, mulai dari perkotaan hingga pedesaan.

Tanpa jasa jasa beliau, mungkin jumlah lembaga pendidikan keagamaan di NTB pada khususnya dan Indonesia pada umumya, tidak akan sebanyak saat ini.

Dikatakan, adanya penolakan yang dilakukan oleh masyarakat Loteng, khususnya masyarakat lingkar bandara, itu tidak semuanya dan malah, menurutnya lebih banyak yang menerima dari pada yang menolak. Termasuk dirinya, sebagai warga di lingkar Bandara.

“Melalui tulisan ini saya nyatakan, hanya sebagian kecil, warga lingkar bandara yang menolak,” tegasnya.

Diakuinya, pihaknya tidak menutup diri, di sekitar bandara, pernah dijadikan tempat minuman keras dan yang lainnya, oleh sebab itu, besar harapannya, dengan terpampangnya nama ulama’ kharismatik, mereka yang sudah menjadikan lokasi miuman keras, mulai malu dan sadar kalau apa yang mereka lakukan itu salah.

Baca Juga  Kemenag: 100 persen madrasah di Mataram menjadi pelaksana UNBK

“Hal hal semacam ini, saya pikir pemerintah harus mendukung, sebab bagi saya, secara tidak langsung nama ulama’ yang sudah diberikan gelar pahlawan bisa menghentikan kelakuan negatif tersebut,” pintanya.

Selanjutnya terkait aksi kemarin, dengan memakai pasilitas negara dan meninggalkan pekerjaan untuk melayani masyarakat. Baginya itu sangat lucu, seperti pemerintah tidak punya pemikiran akademisi, yang telah memberikan ijin para ASN, kades untuk turun di jalan. Sedangkan tugas wajib mereka sangat banyak.

“Tapi biarlah, itu sudah berlalu dan saya berharap semoga hal semacam ini tidak terulang lagi,” harapnya. [sr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori